I Finally Found Jane Eyre

Jane Eyre. Kiri: versi terjemahan, kanan: versi bahasa inggris

Ibi buku-buku yang saya beli

Minggu malam, saat nemenin kakak ke PIM, ke Gramedia PIM lebih tepatnya, saya terkejut banget ketika ngeliat novel judulnya Jane Eyre, karangan novelis inggris Charlotte Bronte versi Bahasa Indonesia. Wow. Saya pengen banget baca Novel ini dari tahun lalu, tetapi waktu itu belum ada yang terjemahan, masih yang versi bahasa inggris saja.

Saya beli versi bahasa inggris di toko buku Kinokuniya Plaza Indonesia. Tetapi berhubung saya kurang suka baca novel berbahasa asing, alhasil novel itu masih tersimpan rapi, lengkap dengan segelnya di kotak buku saya. (dikarenakan saya belum punya rumah sendiri, buku-buku itu masih berada di kotak kerdus di garasi, dan rencana insya alloh, apabila, jikalau, bilamana, seumpama saya punya rumah sendiri, saya dan suami punya cita-cita untuk bikin perpustakaan kecil).

Saya seperti orang kesurupan saking bahagianya saat itu, tanpa pikir panjang saya langsung masukkan ke jinjingan belanja saya. Sepertinya Gramedia sedang banyak menyediakan buku-buku baru, ada beberapa novel lain yang saya beli juga. Namun saya agak kecewa melihat cover Jane Eyre terjemahan ini, covernya kok mirip-mirip buku Toto Chan, ada gambar gadis cilik pakai topi bulu dan jubah, dan warna covernya cokelat, kesannya sendu sekali. Saya lebih suka cover novel yang versi bahasa inggris, putih bersih dengan ilustrasi daun-daun dan bunga mawar merah. Memberi kesan segar, seperti karakter Jane Eyre yang selalu bersemangat walaupun hidupnya sengsara.

Anyway, selain novel, saya juga beli buku komunikasi yang berjudul “Nonviolent Communication”. Saya memang berniat membaca dan mempelajari komunikasi lebih jauh, namun ketika mencoba untuk memulai, selalu buku komunikasi terkalahkan oleh novel. Saya lebih suka baca novel ketimbang buku pengetahuan haha.

Yang menarik dari buku Nonviolent Communication yaitu, penyajian bahasanya tidak baku dan tidak kaku, dengan gaya bahasa santai dan sederhana, setelah baca sekilas sepertinya saya bakalan suka baca buku itu. Baca buku itu seperti baca buku cerita saja namun ini mengenai pengetahuan dalam berkomunikasi. Jadilah buku itu sebagai salah satu penghuni kardus koleksi buku saya di rumah.

Balik lagi ke Novel Jane Eyre, kenapa saya suka dan darimana asal muasal saya tau Jane Eyre. Waktu itu saya nonton film drama, judulnya “Definitely Maybe” yang main Isla Fisher, Ryan Reynolds dan Rachel Weisz. Didalam film tersebut diceritakan, seorang anak diberi hadiah novel klasik dari Ayahnya, yang berjudul Jane Eyre. Jane Eyre adalah novel klasik yang terbit sekitar tahun 1847 yang bercerita tentang seorang anak yatim piatu yang di kucilkan oleh keluarkan Pamannya sendiri.

Setelah saya baca sinopsisnya, sepertinya tokoh utama dalam novel Jane Eyre yaitu Jane Eyre sendiri ini memiliki kesamaan tokoh utama dengan serial klasik Anne of Green Gables, Anne Shirley, yaitu seorang anak kecil yatim piatu yang dibesarkan oleh orang lain, diperlakukan semena-mena karena dia seorang yatim piatu, miskin dan di klaim tidak berguna. Namun memiliki harga diri yang tinggi, baik hati dan ternyata begitu istimewa.

Dalam Anne of Green Gables, Anne Shirley mendapat pendidikan yang tinggi dan menikah dengan pemuda pujaanyaa. Namun cerita Jane Eyre saya belum tau endingnya. (baru mau mulai baca nih).
Selanjutnya cerita mengenai Jane Eyre ini akan saya ceritakan dala blog selanjutnya setelah saya khatam ya.

Ngomong-ngomong soal novel klasik, pernah temen saya tanya “kok suka novel klasik? Jadul”. Saya bilang, saya sebagai penggemar novel, sebenarnya suka novel apapun selama bahasanya runut dan engga mencla mencle, dan saya merasakan ada perbedaan antara baca novel terjemahan modern dan klasik. Walaupun kebanyakan novel yang saya baca adalah fiksi, namun cerita dalam novel adalah inspirasi dan kita bisa mengambil pelajaran dari situ. Jadi saya begitu concern dengan ceritanya.

Novel-novel klasik terjemahan dengan latar belakang budaya barat, masih menerapkan kultur yang mirip budaya timur. Sopan, bermartabat, religius, humanis, dan jauh dari budaya free sex seperti yang ada dilm-film dan novel barat sekarang ini. Namun bukan berarti saya tidak suka novel modern, saya penggemar novel-novel Sophie Kinsella dan Jane Green lho. So, tidak semua novel modern juga jelek, asal pintar-pintar pilih aja.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: