Jangan ragu untuk cari second opinion

lil butterfly lg berenang

Semua orang tua pasti dengan bangga cerita bahwa anaknya yang masih umur sekian udah bisa ini itu, juga banyak yang cerita anaknya pinter banget, malah lebih pinter dari anak lain seusianya.

Kalo menurutku, masing-masing anak itu spesial. Mereka paling ngak punya satu karakter khas yang unik yang engga dimiliki anak lain. Itu yang sepertinya anak kita lebih pinter dari anak lainnya. Padahal sih engga bisa dibandingkan juga, kan seperti tadi dibilang, bahwa anak kecil itu semua spesial dengan keunikannya masing-masing.

Saya aja ngrasa anak pertama saya Anne pesat banget pertumbuhannya. 7 bulan aja, udah numbug gigi seri bawah dua, umur, 8 bulan udah minta ditatah dan udah ada rasa jeles kalo mama papanya gendong anak lain. Waktu itu papa gendong sepupunya, anne meronta2 nangis pengen digendong papa. Giliran mama yang gendong sepupunya, Anne meronta-ronta lagi pengen digendong ama mama juga. Lalu, umur 9 bulan nambah gigi seri atas dua lagi.

Sekarang 10,5 bulan udah maunya ditatah terus. Kalo pagi nini, suka ngajak jalan, dari depan rumah sampai gerbang komplek. Ada kali ngelewati 14 rumah. Kata nini, pernah juga coba jalan sendiri, gak dipegangin, eh dapet beberapa langkah.

Dari pertama dapat MPASI, Anne udah makan banyak, engga doyan makannya cuma sesekali kalo lagi bosen menu tertentu, atau lagi gak enak badan. Anne juga jarang sakit, paling flu aja, dari lahir ampe sekarang flu dapet dua kali. itupun sehari atau dua hari langsung sembuh, karena saya guyur pake ASI.

Sampai pada akhirnya ngalamin kejadian yang bikin sedikit shock. Ceritanya begini:

Kira-kira sebulan yang lalu pas anne mau imunisasi campak, DSA tempat Anne imunisasi bilang BB nya gak cukup buat anak seumuran anne (9 bulan) yang saat itu “cuma” 7,3 kg (berdasarkan timbangan di RS itu). Harusnya Anne bisa lebih berat dari itu.

Saya sudah jelasin bahwa timbangan di RS itu sepertinya kurang akurat, soalnya ditimbang di klinik DSA dekat rumah beberapa hari sebelumnya, berat Anne, 7.8 kg. Tapi DSA nya bilang lagi “bahkan 7,8 kg pun juga masih kurang: katanya.

Well, setelah periksa ini itu, DSA itu langsung suspect TB, dan melakukan tes mantoux dilengan kiri Anne. Katanya, hasil tes akan terlihat dalam 48 jam , jika dalam periode itu muncul merah dan bengkak di tempat suntik mantoux, maka harus cepat-cepat datang lagi ke dia itu. Saat itu sih saya gak tau tes mantoux itu apa. Tanpa ada curiga, soalnya lumayan percaya lah, ini dokter juga DSA nya keluarga juga.

Pulang lah kami saat itu, tanpa ada kecurigaan apa-apa.
48 jam kemudian emang agak jendol dan merah, setelah diukur diameter merahnya 15 mm. Besoknya saya langsung ambil cuti dan langsung nemuin DSA nya, dari hasil tes mantoux itu, DSA nya langsung nyuruh tes darah dan rotgen. Kesian banget Anne kesakitan pas diambil darah, hiks, Saya mulai realistis dari situ. Masa iya anak saya yang lincah ceria bisa suspect TB? Apa iya Anne perlu diambil darah? Tapi, karena sudah setengah jalan, mau gak mau prosedur itu saya ikutin. Setelah hasil tes darah dan rontgen itu keluar, DSA nya langsung menyimpulkan bahwa Anne positif kena TB. Saat itu perasaan campur aduk, masa iya anak sekecil ini udakena TB? Dan tertular dari siapa? Karena TB ditularkan oleh orang dewasa bukan oleh sesama anak. Nininya sebagai yang paling intens ngurus anne, langsung sedih dan berprasangka macem-macem, jangan-jangan nini yang nularin.

Nini kan sering banger bulak balik dokter karena sakit asmanya, tapi gak pernah tuh ada suspect penyakit itu.
Tapi ngak tau kenapa dalam hati kecil saya menolak vonis itu. Saya merasa Anne ngak kenapa-napa.

DSA nya nyaranin untuk pengobatan yang intens, anne diresepin obat anti TB yang harus diminum selama 2 bulan tanpa putus. Dan diresepin untuk 2 minggu pertama dulu. Saya tebus obat itu sambil mikir bahwa harus cari second opinion untuk periksa Ann.

Diperjalanan pulang, saya browsing mengenai TB, tes mantoux dan ciri-ciri anak kena TB. Semua nya gak ada yang cocok dengan kondisi fisik Ann. Akhirnya sore sepulangnya dari RS itu, saya langsung bawa Anne ke DSA langganan deket rumah. Dr. Tiwi. Dr. Tiwi ini, sering jadi narasumber dalam seminar-seminar kesehatan dan beberapa bukunya sudah beredar di toko-toko buku.

Orangnya rame, dan tuntas kalo ngejelasin. Saya datang ke Dr. Tiwi, dan terus terang mencari second opinion atas vonis dari DSA pertama.

Dr. Tiwi Cuma sekilas baca hasil tes mantoux, tes darah, dan rongentnya. Yang intinya hasil tes dimaksud tidak cukup membuktikan bahwa Anne postif TB. Bahkan sebetulnya hasil foto rontgen itu tidak jelas. Dia bilang, dokter mana pun tidak bisa melihat hasil dari foto buram tersebut. Tapi Dr. Tiwi tidak mau ambil keputusan sendiri, apalagi mematahkan vonis/opini sama-sama dokter spesialis anak. Makanya, Dr. Tiwi merujuk lagi untuk konsultasi ke dokter yang leboh senior. Beliau menyarankan saya menemui DSA sub spesialis paru-paru, yang praktek di Jl. Mendawai, Dr. Nastiti Rahajoe. Akhinya saya kejar juga dokter Nastiti sampai ke mendawai.

Setelah ketemu dengan dr. Nastiti, bener juga dokternya sudah sepuh namun teliti dan penjelasannya masuk akal. Dari semua penjelasannya, intinya, Anne tidak tertular TB. Jeda dari test mantoux sampe ketemu Dr. Nastiti, adalah 1 minggu. Anak positif TB itu, bekas Mantoux nya gak hilang sampai 2 minggu. Sementara itu, tonjolan dan merah dilengan Ann bekas test Mantoux udah ilang. Kata dr. Nastiti, ngak mudah memutuskan/memvonis TB pada anak, apalagi hasil test mantoux itu ada yang istilah positif palsu dan negatif palsu.

Artinya dites Trus anaknya gak nafsu makan, BB turun, tidak ada gairah. Gejala ini beda 180 derajat dengan kondisi anne yang saat itu lagi ngobrak ngabrik meja si Ibu dokter, lincah, ceria dan tidak kelihatan seperti anak sakit. Apalagi Dr. Nastiti juga menegaskan komentar dr. Tiwo bahwa hasil fotonya buram, taud ari mana doketr memutuskan TBd ari hasil foto tersebut. Dan hasil tes darah itu, semua hasinya masih dalam rentang yang normald an dapat ditolerir.
Dr. Nastiti 100 persen menyimpulkan kalo Anne sehat, beliau menunjukkan grafik pertumbuhan anak, bahwa anne memang basic nya mungil (sambil lihat ke emaknya), jadi garis pertumbuhannya dibawah rata-rata bukannya kurang. Dan anak kecil tidak harus gemuk untuk dibilang sehat. Apalagi dr. Nastiti lihat langsung gerak gerik anne yang lincah dan katanya motoriknya bagus. Kalau masalah gak nafsu makan, ini masalah lumrah pada anak-anak, mungkin menu makanya harus lebih bervaraisi, supaya gak bosen.

Akhirnya saat itu juga Anne, langsung imunisasi campak, yang menjadi tujuan awal saya datang ke DSA pertama tadi. Imunisasinya lancar.

Saya bukannya tidak mau menerima kemungkinan terburuk dari kondisi anak saya, Cuma saya lebih mendengar pendapat dokter yang masuk akal disertai dengan penjelasan dan bukti-bukti serta tanda-tanda fisik anak. Kalau langsung vonis yang macem-macem, saya engga bakaaln mau dateng ke dokter itu lagi. Apalagi ini menyangkut pertumbuhan anak kecil saya. Dua bulan minum obat tanpa putus bukan hal yang bagus buat anak kecil, apalagi kalo anaknya sebetulnya sehat. Duh kasian banget kan? Anak masih kecil kan tubuhnya masih bersih, masa udah harus minum racun dan nerima vonis yang ngak hati-hati.
Alhamdulilah setelah pulang k rumah dan ganti menu makanan, anne mau makan banyak, seperti semula. Nah kan, emaknya aja ini mah yang kudu rajin ganti menu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: