Touched Down USA

Waktu masih ngantor, saya mengira nanti kalau saya cuti saya akan banyak waktu buat nulis. Ternyata? sama saja. Tidak sempat juga hehe.
¬¬¬¬¬
Sebelum saya share happy life disini, saya mau cerita dulu bagaimana persiapannya kami di Jakarta menjelang hari H.

Karena keberangkatan ke US seminggu setelah lebaran, jadinya persiapannya pun sebenarnya dari bulan puasa. Bisa dikatakan bulan puasa dan lebaran tahun ini konsentrasi ibadah terpecah dengan packing dan planning apa saja yang mau di bawa ke Amrik.

Lebaran tahun ini buat saya menyedihkan. Nongol dikampung cuma 5 hari sudah termasuk PP, sehingga efektif bercengkrama dan silaturahmi dengan keluarga di Pelabuhan Ratu hanya 3 hari saja. Ketemu temen sekolah selewat aja pas buka puasa bareng di hari terakhir puasa, lalu ziarah ke makam Bapak, dan silaturahmi hanya ke sodara terdekat dari rumah saja. Saudara lain yang gak ketemu pas lebaran, mohon maaf, saya juga gak sempet telefon satu persatu karena keterbatasan waktu.

Lalu, H-2 setelah lebaran kami langsung meluncur ke Jakarta. Kami engga bisa leha leha di kampung sementara fikiran melayang ke checklist yang belum semuanya kelar. di Jakarta pun sebagian besar hari habis buat packing, double checking apa-apa saja yang dibawa dan gak usah dibawa. Alhasil banyak barang2 yang atdinya mau dibawa jadi disimpan saja di rumah karena bagasi udah full. Silaturahmi ke keluarga di Jakarta juga tidak maksimal. Tidak semua keluarga didatangin atau dikabarin mengenai kepergian kita. Bukan tidak sopan atau tidak hormat, namun dengan waktu yang terbatas ini, konsentrasi kami hanya buat keperluan pindahan saja.

Ternyata pindahan tidak sesimple itu, apalagi dengan bawa dua anak batita yang keperluannya segambreng. sekalinya pergi berlibur aja bawaan dua anak batita ini udah heboh, kebayang mau pindahan negara.

Untuk urusan di rumah, banyak dibantu sama mamah, santi (asisten yang sudah 2 tahun bekerja), dan sepupuku. karena rencananya rumah di BIntaro mau di kontrakan, jadinya PR nya banyak banget. semua barang di masukin ke kontainer dan di simpan di kamar kakak anne di lantai atas. Rumah kita 3 kamar, namun yang mau dikontrakin cuma 2 kamar.

Lalu urusan keperluan di US, kami banyak dibantu sama calon tetangga di Urbana-Illinois yang dengan segala keramahannya membantu dan meng-guide kebutuhan yang perlu dan tidak perlu di bawa dari Jakarta. Malah salah satu tetangga,dan senior suami di program MBA sudah berbaik hati membelanjakan kebutuhan pokok untuk hari hari pertama kami tiba, seperti beras, buah-buahan telur ayam lengkap dengan alat makan dan alat masaknya.

Sesuai rekomendasi, dari Jakarta saya bawa bumbu-bumbu, obat-obatan anak-anak dan orang dewasa serta baju seadanya. Baju-baju anak-anak yang saya tinggal, sebagian besar saya hibahin ke keluarga, berharap baju-baju cewek itu tidak saya perlukan lagi nanti karena anak ketiga cowok haha. Amin.

Tanggal 7 gustus 2014 pun cuss kami pergi ke Amrik naik Qatar Airways. Di airport sedih banget ninggalin keluarga yang ngaterin, Ada enin, mama papa padang, kakak dan adek. . Apalagi ngeliat enin. Duh hati rasanya terkoyak. Saya gak sanggup nengok ke belakang lagi sewaktu mau boarding, takut nangis. Kalau udah nangs biasanya saya susah berhentinya. Enin juga udah di ajarin biar jangan bawa ke perasaan. Dulu enin gampang nangis. Sekarang, harus dibawa happy, anggap ini untuk aktualisasi dan pengalaman anak cucu. Apalagi teknologi sekarang canggih, beda benua bukan hanya bisa kirim surat aja, tapi udah bisa skype, dan medsos lainnya. Sebelum berangkat enin sengaja di beliin smartphone biar mudah komunikasi lewat media sosial. Perasaan Enin harus selalu dijaga biar happy terus. Biar enin enggak sakit-sakitan seperti dulu.

Alhamdulilah perjalanan marathon dengan total 32 jam itu berjalan lancar. Hanya delay 2 jam di Jakarta sebelum ke doha. Perjalanan Jakarta-Doha 8 jam, engga berasa karena waktu itu malam jadinya kami tidur seperi biasa di rumah. Jam 10 malam waktu Doha atau jam 2 pagi waktu Indonesia, kami tiba di Doha dan langsung menuju quite room, karena kami harus transit 10 jam. Hamad International Airport di Doha sekarang baru renovasi jadi ada namanya Family Quite Room, buat kita tidur dan istirahat karena kami transit cukup lama, 10 jam. Tempatnya lumayan enak ada kursi kursi panjang buat kita tidur. Ternyata di dalammnya juga banyak orang yang istirahat nunggu pesawat berikutnya. Bule-bule juga banyak yang istirahat disitu. Walapun saya hanya tidur 3 jam, namun rasanya waktu cepat berlalu karena saya sambil menyiapkan perlengkapan makan anak-anak dan pakaiannya. Cuci cuci alat makan anak. Jam 8 pagi waktu doha kami pun cuss ke Chicago. 14 jam diudara dari Doha ke Chicago juga rasanya tidak selama itu, Uniknya sepanjang 14 jam ini, kami tidak melewati waktu malam. Sepanjang perjalanan di luar pesawat selalu terik matahari. Seolah kami kejar kejaran dengan matahari dan pesawat kami selalu berhasil mengejar matahari sampai Chicago, Sangat indah.

Jam 2 siang waktu Chicago kami berhasil mendarat dengan lancar, dan di imigrasi pun semuanya lancar, koper juga engga diperiksa ternyata, apa karena kita bawa baby yak? yah tau begitu bawa rendang deh 5 kilo hehhe. Jangan ditanya bagaimana perasaan saya waktu itu. Sangat berbunga-bunga tapi juga sedikit sedih karena tempat yang saya injak ini letaknya jauuuuhhh dari rumah. kalau ada apa-apa susah pulang ke Indonesia. Orang-orang bule ramah-ramah.

Dipintu kedatangan, saya celingukan nyari ornag yang bawa papan nama saya. Kami mencari Mr. Karim yang sudah diatur oleh mbak Pingki (temen kantor di BI) untuk jemput kita di O’Hare Chicago. Setengah jam berlalu dan kami tetap tidak menemukan orang dengan papan nama saya. lalu dengan gontai kami mencari telepon umum, karena wifi di O’Hare ternyata tidak reliable.

Kasian liat suami waktu itu, udah capek bawa koper 6 biji gede-gede, keliling pulak nyari-nyari sosok pak Karim. Anak-anak sudah mulai rewel, entah karena ngantuk atau lapar, karena 2 hari perjalanan makannya engga maksimal. Apalagi si bayi ini, doi gak mau makanan instant. biasanya makan banyak di rumah, di pesawat dan di airport cuma icip-icip aja.

Saat pasrah, tiba tiba depan saya ada yang bilang assalamualaikum. sempet bingung juga siapa ini orang, tapi gak lama hati bersinar katrena sebelahnay suami saya. Ternyata itu pak Karim. Sosok pak KArim beda dengan yangs aya bayangkan ternyata. Saya membayangkan-karena namanya karim-, orangnya sudah tua dan jawa banget. Tapi aslinya orangnya masih cukup muda dan suaranya keceng rupanya pak Karim orang batak yang lama tinggal di Bandung jadi tiasa bahasa sunda kayak saya haha.

Setelah itu kami langsung menuju van nya pak Karim. Alhamdulilah muat. Sepanjang perjalanan dari Chcago ke Urbana-Champaign, saya engga mau tidur. Saya ingin menikmati tanah amerika seperti yang saya lihat di film-film. Dan semuanya sama, rumah-rumah yang punya hamparan halaman depan belakang, kiri kanan yang luas. Rumah – rumah yang berdinding kayu dan ada cerobong asapnya menjadi pembandangan sepanjang jalan 120 miles. Semakin menjauhi Chicago, suasana pedesaan Amerika semakin terasa. tidak ada lagi bangunan bangunan tinggi. Namun berganti dengan hamparan ladang jagung dan kedelai dengan rumah yan luas ditenga-tengah. Duuh, saya jadi inget film Anywhere but here, Natalie Portman dan Susan Sarandon sewaktu nyetir dari rumah mereka di desa ke NY.

Baru mendarat di O'Hare Int'l Airport di Chicago

Baru mendarat di O’Hare Int’l Airport di Chicago

gembolan

gembolan

Saya mulai galau, apa iya kota Urbana-Champaign kotanya sepi seperti kata temen yang pernah tinggal. Nanti say angapain disana? anak-anak betah gak ya kalau sepi gitu?. Di internet pun, saya tidak menemukan gambar apa-apa tentang kota ini.

Lalu tiba-tiba lamunan buyar karena pak Karim mengumumkan kalau sebentar lagi kita mendarat di Champaign County. Saat memasuki kota champaign, nampak sebuah kota kecil yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Ternyata kota ini cantik. Dibilang sepi, engga juga. Ada Toys R Us segede gudang besar di pinggir jalan, lalu saya melihat ada toko-toko dan rumah-rumah yang sangat cantik dengan pekarangan yang luas. Ooh saya suka kota ini.

Memasuki area kampus apalagi. Semua serba tertata dan bersih. Disini, semua bangunan terlihat seperti miniatur, apa karena atapnya rendah ya? Jarang ada bangunan bertingkat, semua bangunan satu lantai dengan pekarangan rumput yang hijau nan indah.

Hati semakin berbunga ketika kami sampai di area tempat tinggal kami Orchard Down. Kami menempati 2035 Apt A. Lokasinya strategis dekat dengan halte bis dan Laundry Room.

Begitu tiba, di rumah sudah tersedia perlengkapan dan makanan. Bantuan dari Mbak Yanti dan Mas Heru. Second year MBA student

Begitu tiba, di rumah sudah tersedia perlengkapan dan makanan. Bantuan dari Mbak Yanti dan Mas Heru. Second year MBA student

-to be continued-

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: